“Dee… apa kabar hari ini. ”
Tidak begitu baik kurasa, kulihat dari raut mukamu, tak tampak keceriaan yang biasa terlihat.

“Ada apa, Dee.”
Apa rasa yang sama datang lagi. Rasa yang tetap kau ungkit lagi setiap kau sendiri.

“Jangan nyerah, Dee,” hidup tetap sama bagimu jika kau terus terpuruk.
Tetap kau bergumam bahwa kau telah ditinggalkan sendiri.
Mengapa kau sembunyikan dirimu di sudut kamar gelap.
Bagaimana yang lain tahu keberadaanmu jika kau terus sembunyi.
Jika kau rasa hidup tak bertujuan bagimu, mengapa tak coba melangkah saja, Dee.
Kau pasti temukan ujungnya nanti.

“Bertaruh saja, Dee,” apapun akhirnya. Asal jangan diam seperti ini.
Ingin kuhempas kaca di hadapanmu agar kau tahu, segala yang hancur takkan pernah sama lagi jika direkatkan.

“Hidup takkan pernah adil, Dee,” tidak bagimu ataupun bagiku. Tapi jika kau jalani ketidakadilan itu, kau pasti temukan jalan yang dibuat untukmu.

“Kita bisa, Dee,” jika kita coba, aku tetap slalu di belakangmu, Dee. “Apa kau takut, Dee,” berpeganglah padaku. “Jangan kau simpan dukamu sendiri, jangan kau buang sgala yang kau punya, Dee. ”
Kau sangat berharga bagiku, dan bagi semua orang yang mencintaimu.

“Semua akan sangat kehilangan jika kau pergi, Dee,” semua tak akan sama lagi tanpamu.
Jangan kau rasa semua kau tanggung sendiri, “Tuhan masih punya jalan buatmu. Dee,” hidup tak harus berhenti disini hanya karena yang kau rasa tak benar.

“Semua tergantung padamu, Dee,” aku slalu tetap disini menemanimu. Sgala rasa kesendirian dan kehampaan akan tetap ada jika kau biarkan ada. “Cobalah melangkah, Dee,” jika kau rasa berani berlarilah, jalani yang ada, tak usah pikirkan apa tujuannya. Kuyakin, nantinya kau akan tahu apa yang kau mau.

@2004