Medio Agustus 2006
Posted by mochaApr 12
Masih tergugu di batas pantai, memikirkan kemana batas cakrawala akan berujung.
Kembali ke masa dimana gak ada batas mimpi dan kenyataan, dimana masa begitu indah, hingga terdampar disini, terengah-engah berharap tentangmu, tentangku, dan tentang kita…
Kamis, dini hari, saat pijakan kaki terhenti karena sosok tinggi ragamu menghalangi matahari yang menerpa wajahku.
Disitu aku kenal kamu lagi, sedikit bayangan tentangmu bertanya ’apa kabar’. Kita sudah lama tak bertemu. Namun kamu tetap sama seperti dulu, hanya guratan halus bertambah beberapa mili di sekitar matamu. Sapaku kembali ’apa kamu baik-baik saja’, kamu menjawab ya, namun bibirmu tak bergeming, dan aku tahu kamu tidak baik-baik saja. Tetapi kali ini berbatas, aku tak bisa melewati koridor mengajukan rentetan pertanyaan kenapa kamu tidak baik-baik saja, karena kamu sudah milik orang lain skarang. Maka aku berpura-pura, oke, semoga nanti kamu akan baik-baik saja.
Minggu, dini hari, saat pijakan kaki terhenti oleh batas kau berbaring, dan akupun sibuk mengatur nafas karena berlari mengejar waktumu.
Sapaku kembali ’apa kabar’, namun kali ini kamu diam.
Hanya selang nafasmu naik turun, dan pompa oksigen yang bergerak seiring waktu. Aku tahu kamu mendengar, tapi kamu gak bisa menjawab, walaupun hanya sekedar ’ya’. Kuberanikan gerakkan jemariku menyusuri sela-sela jemarimu, dingin sekali, apa kamu merasakannya.
Seribu doa kukirimkan lewat genggamanku padamu, semoga kali ini kamu benar-benar baik-baik saja.
Minggu, siang hari, pijakan kaki masih tertanam di sampingmu, tak ingin meninggalkan kamu sendiri.
Aku tahu kamu sedang berjuang, aku tahu kamu ingin bangun dan menyapaku, memeluk aku seperti biasa, dan bertanya ’apa kabarku hari ini’. Aku ingin menemanimu berjuang kali ini.
Hanya berani memandangimu, tanpa berani berharap terlalu banyak, karena kemungkinan cuma tinggal doa dalam Tuhan saja. Akhirnya kelelahan memaksaku kembali meninggalkanmu sebentar. Aku harus pulang sebentar, tanyaku ’apa kamu akan tunggu aku kembali’, lagi-lagi kamu diam.
Minggu, 5.20 sore, pijakan kaki kali ini melangkah santai, karena kutahu kamu akan baik-baik saja. Kamu sudah dipindahkan ke kamar di seberang, katanya kamu sudah lebih baik. Keinginanku untuk menyapa kamu kali ini terhenti oleh batas kaca, aku tak boleh masuk kali ini, katanya ’kamu sedang mandi’, dimandikan tepatnya. Aku memandang, dan berbatas pada ujung tirai warna hijau. Hanya terlihat ujung jari kakimu.
Minggu, 5.25 sore, tirai warna hijau disibakkan, dan membuatku terdiam, hanya menatap. Tidak ada wajah ceria kamu, senyum kamu kala aku datang seperti biasanya, tidak ada ekspresi… Cuma kain putih membentang. Kamu sudah pergi tanpa pernah berpamitan. Kali ini ’kamu benar-benar tidak baik-baik saja’.
Minggu, tengah malam, semua yang kamu sayang ada disini, keluarga, saudara, teman, sahabat, pacar, mantan pacar, bahkan orang-orang yang tidak begitu kenal kamu. Semua ingin mengucapkan salam terakhir untuk kamu. Semua mengirim air mata untuk kamu. Sementara aku, cuma berani berdiri jauh dari kamu, sibuk mencari alasan kenapa kamu pergi, sibuk bertanya ’kenapa kamu tega ninggalin aku’, sibuk menyalahkan Tuhan malah.
Kamu, dengan janji-janji kamu sudah pergi, suatu realita yang gak bisa aku terima, kamu cuma tidur sebentar kan, pasti besok bangun lagi, dan menyapa aku ’apa kabar hari ini’. Tapi, kamu ternyata sudah benar-benar tak ada.
Senin, dini hari, kemana semua mimpi yang kita bangun sama-sama. Kamu bilang akan jagain aku selama kamu mampu, akan jadi orang pertama yang menyaksikan keanggunanku berbalut gaun pengantin, dan akan ngajak aku kencan ngomongin mantan-mantan kita… Kamu lupa sama janji itu.
Kembali menerawang pandangi langit sore ini, pantai begitu tenang kali ini, seperti kenangan tentangmu, tetap menenangi hatiku dan takkan terlupa.
Jika saja bisa membalikkan waktu, aku akan bertanya waktu itu ’kenapa kamu bohong, kenapa kamu katakan kamu baik-baik saja’. Akan kubalikkan waktu untuk perjuangin kamu, biar kamu bukan sekedar mimpi bagi aku. Aku ingin jadi bagian dalam hidup kamu, walaupun hanya sekedar serpihan kecil.
Akan kuberi jawaban atas semua pertanyaan kamu, hingga kamu tak perlu menunggu selama ini atas keinginan untuk mencintaimu sekali lagi. Karena kuyakin, denganmu… tak perlu tergugu sampai selarut ini.


No comments