my hubby

Kenal pertama kali waktu di Lampung, saat duduk dibangku SMA (Xaverius Pahoman, Bandar lampung). Seminggu setelah penataran P4, saat itu gua sedang ekskul volly dan dia ekskul Taekwondo.
Waktu kita pulang, ketemu di depan sekolah, kenalan, oh ternyata namanya David, ngobrol-ngobrol sedikit tentang musik (yah ini dia, yang bikin pas, seleranya cukup sama juga).
Dan ternyata dia suka ngeband juga (seorang drummer). Mulai sering ketemuan di sekolah pas keluar main, ngobrol-ngobrol di depan perpustakaan, dia beralasan minjem buku catatan Fisika untuk belajar (hehehe trik cowok) terus dibalikin udah ada suratnya
Mulai main kerumah, tiap malem minggu yang pasti. Terus akhirnya ngomong juga kalo dia ada hati ke gua, sambil meminjamkan lagu Slank “Anyer 10 Maret”.
Setelah penembakan “I guess I love you”, finally tanggal 19 Agustus 1994, 2 hari setelah 17 agustusan, akhirnya gua jawab dengan IYA….:P setelah sempet dikerjain dulu. Lucu deh…lihat dia loncat-loncat kegirangan dan mentraktir temen2nya makan mie ayam 1 gerobak.
Kita pacaran tidak dengan jalan yang mulus, banyak tantangan dan ketidaksetujuan dari orang tua gua. Yah mungkin karena penampilan dia yang dekil, kurus ceking, item, jarang mandi, celana cutbrai yang robek dan penuh contekan hehehehehehe……tapi kita berdua tetep keukeuh untuk menjalaninya.
Bisa dihitung dengan jari pergi berdua dengan dia (kecuali pas pulang sekolah, dia suka anterin walaupun diem-diem). Nonton aja susah, apalagi keluar berdua, ijinnya ngejelimet
2 tahun di sma Xaverius Pahoman sampai akhirnya kita pisah kota. Dia tetep di Lampung dan gua pindah ke Banjarmasin bersama orangtua. Mulai banyak badai, hubungan kita sempet break selama 2 tahunan (versi dia 2 tahun itu adalah penghianatan terkeji dari gua bukan break). Gua sempat mendengar kabar dia dari teman-teman di Lampung, hancur hidupnya, jadi berandalan yang ngak ada masa depan, sengaja tidak ikut ebtanas sampai harus mengulang lagi SMAnya di sekolah lain.
Sempat terlintas ini salah gua, tapi gua terlalu takut untuk menghadapi kemarahan dia saat itu.
“2 tahun cukup untuk membuat gua mengerti bahwa yang gua butuhkan adalah dia, karena dia yang paling tahu siapa gua“.
Waktu kuliah di Trisakti, nekad gua menelpon tantenya di Lampung, mencoba mencari informasi tentang dia yang hilang ditelan bumi saat itu. Ternyata dia saat itu berada di Bandung, kuliah. Yah nekad juga mencoba menghubungi kost2an dia, biarlah kalaupun dia masih menaruh dendam kepada gua, yah gua terima, apapun yang akan terjadi gua harus bertemu dengan dia.
Waktu denger suaranya, ngak banyak berubah, suara yang selama ini gua rindukan. Dia sempet kaget dan sempet berkata “mau apa lu!” kepada gua…(akhirnya gua tau dibalik ketus dia, rupanya selama ini dia mencari info juga tentang gua di Jakarta) …Setelah banyak bercerita di telepon, akhirnya dia datang ke Jakarta atas undangan gua dan kita bertemu lagi.
Jalan-jalan ke Dufan, dia sempat bertanya kepada gua, mau kita jalanin lagi hubungan kita, terus terang pada saat itu gua sebenernya jawab IYA, tetapi yah sekali ini pengen juga mengetes kesabaran dia dan singkat cerita, kita memutuskan untuk menyambungkan lagi tali asmara yang sempet putus waktu dulu.
Banyak banget perubahan dia. Setelah melewati masa sulit, dia bisa lebih dewasa, walaupun keras kepalanya tetep sama seperti dulu (keras kepala=prinsip bagi dia).
Hubungan kita juga tidak mulus, banyak halangan dan rintangan terutama dari orangtua, tetapi untuk kali ini gua berkeras mempertahankan dia. Dan dia juga memperkeras hati untuk tetep bersama gua.
Walaupun harus capek naek motor dari Bandung ke Jakarta setiap Sabtu (bolos kuliah), pernah juga beberapa kali ketinggalan kereta Parahyangan atau argo gede, dia tetep lakukan, begitupun juga gua.
Kita berdua pernah merasakan dinginnya hujan di puncak tengah malam naek motor dari Jakarta menuju Bandung, sampe jari gemeteran dan mati rasa.
Pernah juga merasakan capeknya naik motor dari Bandung ke Bali (via selatan jawa) selama 3 hari 2 malam.
Yah asal bisa berdua…itu sudah cukup menghangatkan saya dan jadi memory yang gak bisa terlupakan
Singkat cerita, setelah sekian lama akhirnya kami memutuskan menikah 5 November 2006 lalu. Dan saat ini kita udah punya adorable daughter, our princess yang dikasih Tuhan pas 11 Mei 2008, namanya Natasha Roverinn Johansyah (yang sebenernya kita sudah mempersiapkan nama Natasha sejak kita pacaran di SMA).
She’s our dream comes true, thanks God…
“Sampai dunia ini tidak ada lagi, tetapi kisah kita tetep akan ada, hanya Tuhan yang bisa memisahkan kita”
I love you, always and still… Vid, si item emprut
ps: dave said: terimakasih juga sayangku yang terindah, tercantik diseluruh dunia.
Next: Cerita Roverinn






4 comments
Comment by dheno on 20/02/2010 at 5:10 PM
Wah,..terharu bacanya,…salut buat kisahnya …hebat perjuangannya, semoga sampai akhir hayat tetap bersama
…salam dan peluk buat Natasha >:D<
Comment by markus on 30/10/2009 at 5:42 PM
terharu saya.. bacanya . . .
Comment by lius on 06/08/2009 at 1:57 PM
salut dgn curahan nya. smoga smua lancar. salam ama si abang.
Kornelius “LRCM”.
Comment by agil on 04/05/2008 at 6:45 PM
baca semua tentang kisah kasih dan cintanya diatas, sungguh membuat saya pribadi yakin… kalian tak akan terpisahkan… semoga…
Ritta:
Terimakasih mbak Agil, saya juga mengharapkan hal yang sama.